Senin, 25 Maret 2013

Perencanaan Audit


1)            Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri klien.
Auditor harus memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang bisnis dan industri klien agar dapat memahami peristiwa-peristiwa, transaksi-transaksi, dan praktik-praktik yang dapat berpengaruh secara signnifikan pada laporan keuangan. Berdasarkan SA seksi 318 Pemahaman atas Bisnis Klien memberikan panduan tentang sumber informasi bagi auditor untuk memahami bisnis dan industri klien:
a.       Pengalaman sebelumnya tentang entitas dan industrinya
b.      Diskusi tentang orang dalam entitas (seperti direktur, personel operasi senior)
c.       Diskusi dengan personel dari fungsi audit intern dan review terhadap laporan auditor intern
d.      Diskusi dengan auditor lain dan dengan penasihat hukum atau penasihat lain yang telah memberikan jasa kepada entitas atau dalam industri
e.       Disusi dengan orang yang berpengetahuan di luar entitas (seperti ahli ekonomi industri, badan pengatur industri, customers, dan pesaing)
f.       Publikasi yang berkaitan dengan industri
g.      Perundangan dan peraturan yang secara signifikan berdampak pada entitas
h.      Kunjungan ke tempat atau fasilitas pabrik entitas
i.        Dokumen yang dihasilkan oleh entitas (notulensi rapat, laporan keuangan dan laporan tahunan tahun sebelumnya, anggaran, laporan manajemen intern, laporan keuangan interim, dll)

2)            Melaksanakan prosedur analitis
Prosedur analitis didefinisikan sebagai evaluasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data nonkeuangan. Prosedur analitis meliputi perbandingan jumlah yang tercatat atau rasio yang dihitung dari jumlah-jumlah yang tercatat, dibandingkan dengan harapan yang dikembangkan oleh auditor. Tujuan dari posedur analitis adalah untuk membantu perencanaan sifat, saat, dan luas tujuan prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti tentang saldo akun atau jenis transaksi tertentu. Adapun manfaat dari prosedur analitis antara lain dapat mengungkapkan peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, mengungkapkan perubahan akuntansi, perubahan usaha, flukttuasi acak, dan salah saji.

3)            Membuat pertimbangan awal tentang tingkat materialitas.
Dalam melakukan audit, auditor perlu mempertimbangkan tingkat materialitas. Materialitas merupakan besarnya suatu pengabaian atau salah saji informasi akuntansi yang diluar keadaan disekitarnya, memungkinkan bahwa pertimbangan seseorang yang bergantung bahwa informasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut. Dengan kata lain besarnya salah saji tersebut dapat berpengaruh terhadap pertimbangan pihak berkepentingan.
Auditor perlu mempertimbangkan tingkat materialitas awal pada tingkat laporan keuangan dan tingkat saldo akun. Materialitas pada tingkat laporan keuangan ditetapkan oleh auditor karena pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan diterapkan pada laporan keuangan sebagai keseluruhan. Sedangkan materialitas pada tingkat saldo akun ditujukan untuk memverifikasi saldo akun.
Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif dan pertimbangan kualitatif. Pertimbangan kuantitatif berkaitan dengan hubungan salah saji dengan jumlah saldo tertentu, sedangkan pertimbangan kualitatif berkatain dengan penyebab salah saji. Penentuan tingkat materialitas juga berkaitan dengan jumlah bukti audit yang diperlukan, semakin rendah tingkat materialitas maka jumlah bukti audit yang diperlukan akan semakin besar.

4)            Mempertimbangkan resiko audit.
Resiko audit ( audit risk ) adalah risiko auditor tanpa sadar tidak melakukan modifikasi pendapat sebagaimana mestinya atas laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Resiko audit menjadi pedoman para auditor dalam pengumpulan bukti audit, sehingga auditor dapat mencapai tingkat keyakinan yang memadai yang diinginkan.
Ada 3 resiko dalam audit yaitu resiko bawaan (inherent risk), resiko pengendalian (control risk), dan resiko deteksi (detection risk). Resiko bawaan (inherent risk) merupakan resiko salah saji yang melekat dalam saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun. Resiko pengendalian (control risk) adalah suatu resiko tidak dapat dicegahnya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh pengendalian intern. Sedangkan resiko deteksi (detection risk) adalah suatu resiko tidak terdeteksinya salah saji material dalam suatu saldo akun atau asersi tentang suatu saldo akun oleh prosedur audit yang dilasanakan auditor.

5)            Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika perikatan dengan klien berupa audit tahun pertama.
SA Seksi 323 Audit tahun pertama memberikan petunjuk bagi auditor mengenai saldo awal, jika laporan keuangan baru diaudit untuk pertama kali atau sebelumnya sudah diaudit tetapi menggunakan jasa auditor independen lain.
Auditor harus memastikan bahwa saldo awal mencerminkan penerapan kebijakan akuntansi yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten dalam laporan keuangan tahun berjalan. Apabila terdapat perubahan dalam kebijakan akuntansi atau penerapannya tidak konsisten, auditor harus memperoleh kepastian bahwa perubahan tersebut memang harus dilakukan dan dipertanggungjawabkan serta diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Apabila laporan keuangan tahun sebelumnya telah diaudit oleh auditor independen lain, untuk memperoleh keyakinan mengenai saldo awal, auditor tahun berjalan dapat melakukan review terhadap kertas kerja auditor terdahulu. Auditor tahun berjalan juga harus mempertimbangkan kompetensi, independensi dan integritas dari auditor sebelumnya. Sementara apabila laporan keuangan belum pernah diaudit sebelumnya, auditor tahun berjalan harus memperoleh bukti audit kompeten yang cukup untuk mendukung asersi yang terkandung dalam saldo awal, selama saldo tersebut berkaitan dengan laporan keuangan tahun berjalan.

6)            Mengembangkan strategi audit awal untuk asersi signifikan.
Auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit terhadap asersi individual atau golongan transaksi. Hal tersebut dikarenakan adanya keterkaitan antara bukti audit, materialitas, dan resiko audit.
Tujuan dilakukannya audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan telah menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material  sesuai GAAP. Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor mengidentifikasi sejumlah tujuan audit yang spesifik bagi setiap akun yang dicantumkan dalam laporan keuangan dimana didalam laporan keuangan terdiri dari asersi manajemmen yang eksplisit dan implisit. Asersi merupakan hal yang penting karena menjadi pedoman auditor dalam pengumpulan bukti audit yang kompeten.

7)            Memperoleh pemahaman tentang pengendalian intern klien
Pengendalian intern merupakan suatu proses yang dilaksanakan oleh dewan direksi, manajemen, dan personel lainnya dalam suatu entitas, yang dirancang untuk menyediakan keyakinan yang memadai berkenaan dengan pencapaian tujuan. Salah satunya adalah menyediakan keyakinan yang memadai dalam mencapai keandalan dari informasi keuangan.
Auditor perlu mamahami sistem pengendalian intern klien untuk untuk mengdentifikasi adanya salah saji material yang dapat mempengaruhi asersi laporan keuangan manajemen dan faktor-faktor yang mempengaruhi resiko salah saji tersebut serta merancang pengujian subtatif untuk menyediakan keyakinan yang memadai untuk mendeteksi salah saji. Dalam kaitannya dengan bukti audit, pemahaman mengenai pengendalian intern juga dapat mempengaruhi jumlah bukti audit yang diperlukan. Dengan adanya pengendalian intern yang baik maka informasi yang dihasilkan semakin handal sehingga bukti audit yang diperlukan juga semakin sedikit. 

oleh Kelpompok 2 (Yuniarsih C1C009127, Ety Wahyuningrum C1C009135, Siti Aminah C1C009140)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar